Minggu, 15 April 2012
Gadis Bawah Umur Mengaku Diperkosa
Indramayu-SINAR PAGI
Siswi SMP sebut saja Melati (bukan nama sebenarnya), warga Desa Plawangan Kecamatan Bongas Kabupaten Indramayu Jawa Barat, anak berusia 14 tahun itu telah kehilangan masa depannya akibat diperkosa 6 pemuda, pelaku diantaranya masih duduk dibangku SMP.
Lantaran merasa malu kini Melati tidak mau melanjutkan sekolahnya lagi. Ras (40) ayah Melati saat dikonfirmasi SP dirumahnya mengatakan “kejadian ini terjadi bulan Desember 2011 lalu. Anak saya itu baru menceritakannya Februari 2012 kepada ibu anggkatnnya, kemudian si ibu angkat memberitahu ke kami. Saya dan isteri kaget dan shock mendengar informasi itu,” ujar Ras. Melati menceritakan kepada ibu angkatnya sesaat dirinya sebelum diperkosa berramai-ramai, Ry bersama Heng yang merupakan teman sekelasnya datang kepadanya yang ketika itu berada dirumah neneknya di Desa Plawangan. Dua temannya itu kemudian mengajaknya keluar rumah dengan alasan jalan-jalan. Melati yang tidak curiga karena yang mengajaknya itu adalah temannya sendiri, kemudian menurutinya. Oleh temanya Melati dibawa kesuatu tempat di wilayah Tulangkacang Desa Kertamulya Kecamatan Bongas. Ditempat tersebut, mereka berkumpul dengan teman pelaku, yang juga ikut memperkosa dirinya sambil menggelar pesta miras. Oleh pelaku, korban dipaksa untuk ikut minum miras arak ciu. Merasa puyeng, meski hanya sedikit yang dia minum, korban kemudian meminta kepada Ry dan Heng untuk mengantarnya pulang ke rumah. Hanya saja, oleh pelaku korban bukan diantarnya pulang, melainkan dibawa ke jalan Pertamina di wilayah Desa Kertajaya Kecamatan Bongas. Rupanya, keempat pelaku lainnya itu sudah menunggu di lokasi tersebut. Saat itu juga, Melati diperkosa secara bergilir, Saat kejadian berlangsung, tangan dan kaki Melati dipegangi pelaku dan mulutnya disumpal kain.
Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun SP, menurut pengakuan korban, Para pelaku masing-masing yang berinisial Ry (14), Heng (14), Lan (14), By (14), Tak (14) dan seorang pemuda yang berinisial Kar (17). Salah satu yang diduga pelaku berhasil ditemui SP yaitu Tak “saya tidak memperkosa Melati, Saya hanya menutupi mulutnya saja dengan kain” ujar Tak kepada SP. Tak tidak mengatakan siapa saja yang memperkosa melati, seolah menutupi atau merahasiakannya.
Saat mendapatkan laporan peristiwa yang menimpa anaknya itu, Ras tidak langsung melaporkannya ke polisi, karena bingung. Dirinya baru bisa melaporkan setelah ada orang yang iba kemudian mengantarkannya untuk melaporkan kejadian tersebut. “Bulan Maret saya melapor ke Polsek Bongas. Tapi beberapa hari setelah melapor, pak polisi menyuruh untuk melaporkan ke Polres Indramayu di unit yang khusus menangani kasus anak-anak dan perempuan (unit PPA). Saat itu memang langsung ditindaklanjuti, tapi sekarang tidak ada khabar beritanya lagi,” ungkap Ras
Ras orang tua Melati, sangat berharap kepada pihak kepolisian, agar serius menindaklanjuti kasus pemerkosaan yang menimpa anaknya. “Saya sangat berharap adanya keadilan hukum. Karena anak saya diperlakukan seperti itu, sampai-sampai dia putus sekolah. Sekarang juga anak saya masih trauma. Dia sekarang sedang saya ungsikan di rumah saudaranya karena kalau disini katanya malu,” imbuh Ras.
*tahrudin/dedy candra
Edisi 16-22 April 2012
Selasa, 10 April 2012
Praktek Prostitusi di Tengah Pemukiman Resahkan Warga
Indramayu-SINAR PAGI
Masalah penjaja sek komersial (PSK) dan apalagi menghapus lokalisasi prostitusi merupakan masalah yang krusial, apa karena banyak kepentingan yang ikut bermain didalamnya? Dan kembali lagi kepentingan masyraakat harus dikalahkan oleh berbagai kepentingan segelintir oknum tertentu, pada akhirnya rencana atau protes pembubaran lokalisasi PSK kembali terkubur oleh berbagai janji yang tidak karuan.
PSK sejak dahulu menjadi perbincangan hangat dan menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah terselesaikan oleh Pemerintah. Setiap kali ada protes tentang lokalisasi PSK, selalu menemui jalan buntu, yang akhirnya protes itu mendingin bagaikan air didalam frezer kulkas.
Seperti lokalisasi praktek prostitusi “GEBOG” yang berada di Desa Sukra Wetan Blok Karanganyar Rt.06 Rw.01 Kecamatan Sukra Kabupaten Indramayu Jawa Barat, menjamur praktek prostitusi sejak puluhan tahun silam, meski telah mendapat hujatan hingga tindakan anarkis dari Masyarakat setempat, tapi ternyata praktek prostitusi tersebut hingga kini berjalan apa adanya tanpa ada tindakan pembubaran dari aparat.
Salah satu tokoh Masyarakat setempat mengatakan, pihaknya telah bosan memberikan saran kepada pemilik lokasi praktek prostitusi tersebut, bahkan pernah pada tahun-tahun terdahulu Masyarakat melaukan perusakan pada lokasi itu tapi pemiliknya membangun dan membuka praktek bejatnya lagi.
Sementara kuwu Sukra Wetan yang baru terpilih M.Rusdi saat di konfirmasi SP mengatakan, dirinya secara pribadi pernah menegur sang pemilik praktek prostitusi tersebut untuk beralih pada usaha yang lain, tapi sang pemilik tidak mengindahkan teguran Kuwu M.Rusdi.Lurah Suwari juga siap bekerja sama dengan instansi yang tekait apabila dari Masyarakat melakuakan pengaduan kepada dirinya atau melalui Pemerintah Desa guna melakukan pembubaran praktek prostitusi tersebut, begitu juga Marno salah satu anggota Karang Taruna Desa Sukra Wetan akan melakukan mediasi yang intinya siap menutup atau membubarkan praktek prostitusi tersebut dengan cara musyawarah agar tidak terjadi tindakan yang anarkis.
Tokoh Pemuda yang tidak mau disebutkan namanya juga memberikan komentar kepada SP bahwa dirinya sudah sangat geram, saran darinya dan juga teman-temanya tidak di anggap bagi pemilik praktek prostitusi tersebut mungkin disebabkan karena pemiliknya termasuk keluarga besar di Blok Karanganyar Desa Sukra Wetan.
Pantauan SP dilokasi, menjelang Isya hingga dini hari lokasi tersebut selalu ramai pengunjung dan pria hidung belang yang mencari kenikmatan dari penjaja sek.
Usaha praktek prostitusi yang berkembang turun temurun kepemilikannya itu dapat berjalan sampai bertahun-tahun, mungkin karena belum ada tindakan tegas dari aparat, hingga protes dan tindakan dari Masyarakat tidak membuat takut bagi pemilik praktek prostitusi tersebut.
Tokoh Masyarakat dan juga tokoh pemuda kini hanya berharap kepada aparatur Pemerintah agar bertindak tegas terhadap adanya praktek prostitusi itu, agar warga Masyarakat Desa Sukra wetan Blok Karanganyar tidak tercemar namanya hingga sekian lama ini, karena praktek prostitusi tersebut merupakan penyakit Masyarakat (Pekat) yang perlu diberantas apalagi lokasinya berada di tengah-tengah pemukiman Masyarakat dan tentu sangat meresahkan warga.
*Dedy candra
Edisi 2-8 April 2012
Langganan:
Komentar (Atom)